tanggung jawab sosial perusahaan

Posted: October 7, 2012 in Uncategorized

Tanggung Jawab sosial perusahaan adalah suatu konsep bahwa organisasi, khususnya  perusahaan adalah memiliki suatu tanggung jawab terhadap konsumen, karyawan, pemegang saham, komunitas dan lingkungan dalam segala aspek operasional perusahaan.

Peran tanggung jawab sosial suatu perusahaan mencakup berbagai konsekuensi lingkungan dan sosial baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang. Tanggung jawab sosial perushaan juga  merupakan suatu komitmen berkelanjutan oleh dunia usaha untuk bertindak etis dan memberikan kontribusi kepada pengembangan ekonomi dari komunitas setempat atau pun masyarakat luas, bersamaan dengan peningkatan taraf hidup pekerjanya beserta seluruh keluarganya dengan meningkatkan kepekaan dan kepedulian terhadap lingkungan dan masalah etika, seperti perusakan lingkungan, perlakuan tidak layak terhadap karyawan, dan cacat produksi yang mengakibatkan ketidak nyamanan ataupun bahaya bagi konsumen.

Dengan menunjukan kepedulian dan meningkatkan partisipasi terhadap lingkungan dan komunitas sekitar maka akan menyeimbangkan kepentingan antara beragam pemangku kepentingan internal dan eksternal. Di beberapa negara bahkan butuh memberikan laporan pelaksanaan tanggung jawab sosial perusahaan dengan  standar akuntibilitas internasional dan standar manajemen lingkungan yang diakui.

Dengan adanya persaingan kerja diantara para lulusan maka program-program tanggung jawab sosial perusahaan dapat digunakan untuk menarik perhatian para calon pelamar kerja. Di Indonesia, respon terhadap dampak kegiatan sebuah korporasi bertumpang tindih dengan kondisi masyarakat yang pemenuhan kebutuhan dasarnya masih bermasalah. Karenanya, perusahaan baik BUMN maupun swasta, yang berskala nasional maupun multi nasional, berurusan dengan kekuatan sosial yang besar dan nyata—menyangkut isu pemenuhan kebutuhan dasar— yang kekuatannya  bukan hanya di sekitar lokasi kegiatan,  tetapi juga di tataran nasional bahkan global. Di tingkat dunia tanggung jawab perusahaan diikat dengan kerangka perjanjian global, seperti UN Global Compact, the voluntary principles on security and human rights, Business Leaders Initiative on Human Rights (BLIHR), ataupun pakta anti korupsi.

Di Indonesia tanggung jawab sosial perusahaan sudah diikat pada aspek legal melalui klausul dalam UU No. 40 tahun 2007 tentang Perseroaan Terbatas (UU PT) dan UU No. 25 tahun 2007 tentang Penanaman Modal (UU PM). Pasal 74 UU PT menyebutkan bahwa setiap perseroan yang menjalankan kegiatan usahanya di bidang dan/atau berkaitan dengan sumber daya alam wajib melaksanakan tanggung jawab sosial dan lingkungan. Sementara pasal 15 huruf b UU PM menyebutkan, setiap penanam modal berkewajiban melaksanakan tanggung jawab sosial perusahaan. Jika kewajiban tersebut tidak dilaksanakan maka perseroan atau penanam modal akan dikenakan sanksi mulai dari peringatan tertulis, pembatasan kegiatan usaha, pembekuan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal, hingga pencabutan kegiatan usaha dan/atau fasilitas penanaman modal.

Korporasi, mau tidak mau, harus melakukan berbagai kompromi, adaptasi, dan respon mitigasi, apabila menghendaki keberadaannya aman dari aspek hukum, diterima oleh masyarakat sekitarnya, dan kegiatannya dapat berkelanjutan. Pada fase awal kegiatan yang diyakini sebagai tanggung jawab sosial perusahaan biasanya berupa kegiatan kekeluargaan, sumbangan pada lembaga keagamaan dan yayasan sosial, serta sedikit pengenbangan komunitas. Namun kegiatan tersebut amat tergantung pada keinginan dari pihak manajemen perusahaan sendiri. Hasil Program Penilaian Peringkat Perusahaan (PROPER) Kementerian Negara Lingkungan Hidup menunjukkan bahwa dari 466 perusahaan dipantau ada 72 perusahaan mendapat rapor hitam, 150 merah, 221 biru, 23 hijau, dan tidak ada yang berperingkat emas. Fakta ini menunjukkan bahwa masih sangat banyak perusahaan yang belum menjalankan tanggung jawab lingkungan maupun sosial.

Tema tanggung jawab sosial perusahaan atau corporate social responsibility (CSR) kecenderungannya akan semakin menguat di masa mendatang,  baik di tingkat lokal, nasional dan global, sejalan dengan menguatnya gerakan lingkungan merespon berbagai perubahan global. Meskipun payung hukum yang ada masih bisa ditafsirkan berbeda-beda—dibeberapa daerah terdengar ada upaya untuk menyusun Perda terkait CSR— kekuatan nyata dari  masyarakat yang semakin terorganisasi dan semakin berwawasan, mau tidak mau harus direspon oleh korporasi bila mengehendaki keselamatan dan keberlanjutan operasinya. Korporasi, dalam berbagai   kejadian berakibat serius—bahkan sampai korban jiwa masyarakat— selalu tersudutkan karena tidak menjalin hubungan  baik dengan masyarakat, dan memang pada nyatanya banyak yang belum memiliki divisi khusus community development (CD) yang menangani CSR, berbagai permasalahan hanya ditangani oleh corporate relation (CR) atau bagian public relation.

Tidak perlu masuk menganalisis  dari sudut pandang  ekonomi politik, siapa  berfihak ke mana :  neolib, ekonomi kerakyatan, state capitalist, dan sebagainya. Gunakan saja peluang dan potensi  yang ada untuk menanggulangi  berbagai masalah di masyarakat, untuk  meningkatkan kesejahteraan masyarakat.  Kedepan, korporasi akan semakin mengendorkan tensinya dan mengakomodasi  aspirasi yang muncul dari sekitarnya, atau merncari sasaran bantuan sendiri dari berbagai informasi yang tersedia.

Meskipun masih tetap berpegang pada fakta bahwa korporasi hanya berorientasi pada efisiensi biaya dan optimalisasi profit, dan tanggung jawab sosial perusahaan dianggap sebagai beban biaya capital maintenance, sehingga korporasi  akan mengontrol ketat munculnya pos pengeluaran baru yang tercermin pada sikap diam bila di lingkungan sekitarnya aman tenteram dan tidak melakukan tuntutan.  Bila ada korporasi memberikan respon positip terhadap keharusan melaksanakan program CSR, itu tidak berarti bahwa  mereka secara inheren memiliki niat baik tetapi karena tuntutan dari luar dan adanya kebutuhan pencitraan untuk meningkatkan reputasi korporasi.

Banyak sekali ruang gerak di bidang CSR yang bisa dilakukan. Lingkungan dan sosial merupakan aspek utama dari kegiatan yang dilakukan, baik terkait konservasi alam maupun pengembangan masyarakat dan peningkatan kesejahtaraan masyarakat sekitar. Kontribusi langsung kepada masyarakat masih perlu didorong untuk ditingkatkan karena dapat memberikan dampak nyata. Selain itu CSR juga memiliki fleksibitas yang tinggi yang dapat menutupi keterbatasan dari perencanaan pembangunan formal yang selama ini ada.

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s